Tarekat Haddadiyah di Nusantara Abad Ke-17: Transmisi Intelektual, Jaringan Spiritualitas, dan Dinamika Lokalitas dalam Perspektif Tasawuf
DOI:
https://doi.org/10.58572/hkm.v6i1.202Keywords:
Kata Kunci: Ba‘Alawi, Hadramaut, moderasi, tasawuf, zikir, Keywords: Ba‘Alawi, dhikr, Hadramaut, moderation, SufismAbstract
This article investigates the evolution of the Haddadiyah Sufi order in 20th-century Indonesia by examining its intellectual transmission, spiritual networks, and local adaptations. Rooted in the teachings of Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad of Hadramaut, the Haddadiyah order represents a form of amali (practical) Sufism that harmonizes ritual practices, spiritual ethics, and inclusive religious engagement. Employing a qualitative approach based on textual analysis and historical interpretation, this study reveals how the Haddadiyah tradition was disseminated through non-formal religious circles and the dynamic roles of Ba‘Alawi scholars. The findings highlight the order’s success in embedding its spiritual practices into local cultures while maintaining theological authenticity. Furthermore, the use of digital platforms and women-led majelis illustrates its adaptability to contemporary demands. The Haddadiyah model promotes values such as love, sincerity, humility, and social empathy, positioning Sufism not merely as a mystical path but as a transformative force in shaping moderate Islamic civilization.
Keywords: Ba‘Alawi, dhikr, Hadramaut, moderation, Sufism
Abstrak
Artikel ini menelaah perkembangan Tarekat Hadadiyah di Indonesia pada abad ke-20 dengan menitikberatkan pada transmisi intelektual, jaringan spiritual, serta proses adaptasinya terhadap konteks lokal. Bersumber dari ajaran Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad di Hadramaut, Hadadiyah mencerminkan model tasawuf amali yang memadukan ritual dzikir, etika spiritual, dan keterlibatan keagamaan yang inklusif. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis historis-konseptual, penelitian ini mengungkap bahwa penyebaran Hadadiyah berlangsung melalui struktur keagamaan nonformal dan peran aktif ulama dari jaringan Ba‘Alawi. Temuan menunjukkan bahwa tarekat ini berhasil berakulturasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan keotentikan ajaran. Selain itu, pemanfaatan media digital serta partisipasi perempuan dalam majelis taklim memperlihatkan daya adaptif Hadadiyah terhadap zaman modern. Nilai-nilai seperti cinta, kejujuran, tawadhu‘, dan kepedulian sosial menjadi inti ajaran, menjadikan tasawuf Hadadiyah tidak hanya sebagai jalan spiritual personal, tetapi juga sebagai kekuatan transformasi peradaban Islam moderat yang inklusif.
References
Azyumardi Azra. (2003). Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Prenada Media.
D R Pratama. (2025). Zuhud dan Spiritualitas Sosial: Studi Kontemporer Tasawuf dalam Masyarakat Perkotaan. Jurnal Dakwah Dan Media.
Dimyati M. (2023). Media Sosial dan Reinterpretasi Ajaran Tasawuf di Era Digital.
E Ho. (2006). The graves of Tarim: Genealogy and mobility across the Indian Ocean. University of California Press.
Fadhillah Quratul ‘Aini, Rahmi Yuli Andini Hasibuan, & Gusmaneli Gusmaneli. (2024). Pendidikan Karakter Sebagai Landasan Pembentukan Generasi Muda. Dewantara : Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 3(4), 54–69. https://doi.org/10.30640/dewantara.v3i4.3321
G Falach & Assya’bani. (2023). Tasawuf dan Etika Sosial: Reaktualisasi Spiritualitas dalam Kehidupan Modern. Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam. Jurnal Tasawuf Dan Pemikiran Islam.
Hasib, M. (2017). Tradisi Ba’alawi dan Peranannya dalam Pengembangan Islam di Indonesia. Kalimah. Universitas Daarussalam Gontor.
Ihslan Reliubun. (2023). Profil Habib Lutfi. Tempo.Co. https://www.tempo.co/politik/profil-luthfi-bin-yahya-anggota-wantimpres-pendukung-prabowo-gibran-128249
Iswanto, A. (2013). Sejarah Intelektual Ulama Nusantara: Reformulasi Tradisi di Tengah Perubahan. Jurnal Lektur Keagamaan, 11(2), 455. https://doi.org/10.31291/jlk.v11i2.77
K Saputra. (2020). Etika Sosial dalam Tradisi Tasawuf: Relevansi Nilai-nilai Hadadiyah terhadap Masyarakat Modern. Jurnal Studi Keislaman.
Kamaruzzaman Bustamam ahmad. (2012). Islam di sia Tenggara.
Khairuddin, W. H. (2020). Konsep Tasawwuf Dan Tarekat Menurut Ahli Sunnah Waljamaah.
Madjid. (1999). Tradisi Islam Indonesia.
Maulida R. (2022). Inklusivisme tarekat sebagai respon atas pluralisme: Studi atas praktik Ratib al-Haddad di masyarakat urban.
Mekki Natsir. (2021). Tasawuf dan Peradaban.
N Hasanah. (2010). Peranan Kiyai H. Ali Umar Thoyyib dalam Penyebaran Tarekat Hadadiyah di Kecamatan Ilir Timur 2 Kota Palembang Tahun 1983–2008.
Noupal, M. (1970). Zikir Ratib Haddad: Studi Penyebaran Tarekat Haddadiyah di Kota Palembang. Intizar, 24(1), 103–114. https://doi.org/10.19109/intizar.v24i1.2185
Purnamasari. (2022). Pendidikan tasawuf dalam membentuk karakter religius santri. Jurnal Pendidikan Agama Islam. Maliki Islamic Journal.
R Anwar. (2023). Moderasi Beragama dalam Perspektif Habib Husein Ja’far: Tasawuf dan Narasi Spiritual Kaum Muda.
Syamsun Ni’am. (2014). Tasawuf studies. Ar-ruz Media.
W Wahyudi. (2020). Tasawuf Amali sebagai metode pendidikan spiritual. jurnal pendidikan islam.
zam zam. (2020). Sejarah dan Perkembangan Tarekat di Nusantara. Jurnal Tasawuf dan Sosial Keagamaan.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Yasirul Musyaffa Yasir, Muhammad Syukron Jazilah, Ayatulloh, Gina Husniati Zahra

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.








