Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia <h2>Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam</h2> <p><strong>E - ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20210929001552925" target="_blank" rel="noopener">2808-2044</a></strong></p> <p align="justify"><strong><a href="https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia">Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam</a> </strong>focuses on research and reviews related to education in <strong>Sufism, Tarekat, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought</strong>. Every submitted manuscript will be reviewed by editorial, if it fits the scope of the journal will be reviewed by our esteemed peer-review. This journal is published by <strong>Ma'had Aly Idrisiyyah</strong> with an online publication frequency twice a year, namely in <strong>March and September</strong>. For authors who are interested in submitting manuscripts, please <strong><a href="https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/user/register">register</a> </strong>yourself, manuscript templates can be downloaded <strong><a href="https://docs.google.com/document/d/127H4uhJSmINt5i9yx_FoWXcXkGfzCqTa/edit?rtpof=true&amp;sd=true" target="_blank" rel="noopener">here</a></strong>.</p> Ma'had Aly Idrisiyyah en-US Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam 2808-2044 Genealogi dan Persebaran Tarekat Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah Berjan Purworejo https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/162 <p>This paper examines the genealogy and spread of <em>Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah</em> Berjan Purworejo. Shaikh Ahmad Khatib al-Sambasī, the founder of this tariqah, had a famous caliph, 'Abd Al-Karīm Al-Bantanī. From this caliph, a Purworejo named Zarkasyī ibn Asnawi received <em>ijāzah murshid Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah</em> which means that he has the authority to spread <em>Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah</em> and appoint the <em>murshid</em> of the tariqah. From this Shaikh Zarkasyī, <em>Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah</em> spread to various corners. With a library research method, whose data sources come from books or journals related to the research topic. The main source comes from the biography book of KH. Nawawi, the fourth <em>murshid</em> of <em>Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah</em> Berjan Purworejo, and several journals, it can be seen that the spread of <em>Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah</em> Berjan Purworejo includes Java, Sumatra, Kalimantan (especially Brunei Darussalam and Malaysia), and the Malay Peninsula.</p> Rizki Hidayatulloh Copyright (c) 2026 Rizki Hidayatulloh https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 1 26 10.58572/hkm.v6i1.162 Integrasi Tasawuf Akhlaki Al-Ghazālī Dalam Keberlanjutan Lingkungan: Paradigma Spiritual Menghadapi Krisis Ekologi https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/191 <p>Abstract</p> <p>This study explores the integration of al-Ghazālī’s Sufi ethics into the framework of environmental sustainability as a spiritual and ethical paradigm addressing contemporary ecological crises. Employing an emic-oriented qualitative analytical library research methodology, the investigation examines al-Ghazālī’s seminal work, Ihya’ Ulūm al-Dīn, alongside secondary sources from accredited journals to understand how maqāmāt such as at-taubat, asy-syukr, az-zuhd, and al-mahabbah constitute an ethical transformation framework connecting spiritual, moral, and behavioral dimensions of human life. Findings indicate that pillars of environmental sustainability, including Planetary Boundaries, Life Cycle Assessment, and Sustainable Development Goals, are mutually complementary with religious agency, with Sufi ethics serving as a value-driven catalyst for ecological practices at individual, communal, and institutional levels. Universal values across faiths, including metanoia in Christianity, karma purification in Hinduism, and moral purification in Buddhism, exhibit intrinsic resonance with al-Ghazālī’s maqāmāt, facilitating interfaith collaboration in environmental stewardship. Content analysis reveals that integrating Sufi ethics promotes sustainable behavioral transformation through inner purification, gratitude, consumption restraint, and universal love, effectively addressing root causes of ecological crises such as anthropocentrism and consumerism. This study proposes an integrative conceptual model bridging spirituality, ethics, and ecology, with practical implications for religious education, governmental policy, and community engagement, emphasizing that environmental sustainability can be realized through a holistic synergy of moral, spiritual, and social dimensions.</p> <p>Abstrak</p> <p>Penelitian ini mengeksplorasi integrasi tasawuf akhlaki al-Ghazālī dalam kerangka keberlanjutan lingkungan sebagai paradigma spiritual dan etis untuk merespons krisis ekologi kontemporer. Menggunakan metodologi studi kepustakaan analitis kualitatif berbasis emic, kajian ini menelaah karya utama al-Ghazālī, Ihya’ Ulūm al-Dīn, serta literatur sekunder dari jurnal terakreditasi untuk memahami bagaimana maqāmāt seperti At-Taubat, Asy-Syukr, Az-Zuhd, dan AlMahabbah membentuk kerangka transformasi etis yang menghubungkan dimensi spiritual, moral, dan perilaku manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa pilar keberlanjutan lingkungan, termasuk Planetary Boundaries, Life Cycle Assessment, dan Sustainable Development Goals, saling melengkapi dengan agensi keagamaan, di mana tasawuf akhlaki berfungsi sebagai sumber nilai yang mendorong praktik ekologis pada tingkat individu, komunitas, dan institusi. Nilai-nilai universal lintas agama, seperti metanoia dalam Kristen, karma purification dalam Hindu, dan moral purification dalam Buddha, menunjukkan resonansi intrinsik dengan maqāmāt al-Ghazālī, membuka peluang kolaborasi interfaith untuk pelestarian lingkungan. Kajian ini mengungkap bahwa integrasi tasawuf akhlaki memfasilitasi perubahan perilaku berkelanjutan melalui penyucian batin, rasa syukur, pengendalian konsumsi, dan cinta universal, yang efektif menghadapi akar krisis ekologi seperti antroposentrisme dan konsumerisme. Temuan ini menawarkan model konseptual integratif antara spiritualitas, etika, dan ekologi, dengan implikasi praktis untuk pendidikan agama, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan dapat diwujudkan melalui sinergi moral, spiritual, dan sosial yang holistik. </p> Dzaky Nabil Al-Hakim Hafizhah Nuri Rahma Mufidah Hema Ismawati Fauzi Annur Copyright (c) 2026 Dzaky Nabil Al-Hakim Al-Hakim, Hafizhah Nuri Rahma Mufidah Mufidah, Fauzi Annur Annur, Hema Ismawati Ismawati https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 27 52 10.58572/hkm.v6i1.191 Tarekat Haddadiyah di Nusantara Abad Ke-17: Transmisi Intelektual, Jaringan Spiritualitas, dan Dinamika Lokalitas dalam Perspektif Tasawuf https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/202 <p>This article investigates the evolution of the Haddadiyah Sufi order in 20th-century Indonesia by examining its intellectual transmission, spiritual networks, and local adaptations. Rooted in the teachings of Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad of Hadramaut, the Haddadiyah order represents a form of amali (practical) Sufism that harmonizes ritual practices, spiritual ethics, and inclusive religious engagement. Employing a qualitative approach based on textual analysis and historical interpretation, this study reveals how the Haddadiyah tradition was disseminated through non-formal religious circles and the dynamic roles of Ba‘Alawi scholars. The findings highlight the order’s success in embedding its spiritual practices into local cultures while maintaining theological authenticity. Furthermore, the use of digital platforms and women-led majelis illustrates its adaptability to contemporary demands. The Haddadiyah model promotes values such as love, sincerity, humility, and social empathy, positioning Sufism not merely as a mystical path but as a transformative force in shaping moderate Islamic civilization.</p> <p><em>Keywords: Ba‘Alawi, dhikr, Hadramaut, moderation, Sufism</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Artikel ini menelaah perkembangan Tarekat Hadadiyah di Indonesia pada abad ke-20 dengan menitikberatkan pada transmisi intelektual, jaringan spiritual, serta proses adaptasinya terhadap konteks lokal. Bersumber dari ajaran Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad di Hadramaut, Hadadiyah mencerminkan model tasawuf amali yang memadukan ritual dzikir, etika spiritual, dan keterlibatan keagamaan yang inklusif. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis historis-konseptual, penelitian ini mengungkap bahwa penyebaran Hadadiyah berlangsung melalui struktur keagamaan nonformal dan peran aktif ulama dari jaringan Ba‘Alawi. Temuan menunjukkan bahwa tarekat ini berhasil berakulturasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan keotentikan ajaran. Selain itu, pemanfaatan media digital serta partisipasi perempuan dalam majelis taklim memperlihatkan daya adaptif Hadadiyah terhadap zaman modern. Nilai-nilai seperti cinta, kejujuran, tawadhu‘, dan kepedulian sosial menjadi inti ajaran, menjadikan tasawuf Hadadiyah tidak hanya sebagai jalan spiritual personal, tetapi juga sebagai kekuatan transformasi peradaban Islam moderat yang inklusif.</p> Yasirul Musyaffa Yasir M Syukron Jazilah Gina Husniati Zahra Ayatulloh Copyright (c) 2026 Yasirul Musyaffa Yasir, Muhammad Syukron Jazilah, Ayatulloh, Gina Husniati Zahra https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 53 69 10.58572/hkm.v6i1.202 Kritik orientalis terhadap tasawuf: antara distorsi dan pemahaman https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/230 <p>This study aims to analyze Orientalist critiques of Sufism and to understand how Muslim scholars and practitioners respond to the epistemological constructions developed by Western thought toward Sufi teachings. This phenomenon is significant because Orientalist criticism often distorts the essence of Islamic spirituality by portraying Sufism as a product of non-Islamic cultural assimilation. The study employs a descriptive qualitative approach using the library research method, examining various primary and secondary sources such as the works of Orientalists (Reynold A. Nicholson, Louis Massignon, and Edward Said) and contemporary Muslim scholars (Syed Naquib Al-Attas, Amin Abdullah, and Rahmawati). Data were collected through documentation and analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model, which includes data reduction, data display, and verification to identify key themes. The findings reveal that Orientalist critiques of Sufism are grounded in a rationalistic-secular paradigm that neglects the spiritual and revelatory dimensions of Islam. Conversely, Muslim scholars affirm that Sufism is rooted in the Qur’an and the Sunnah, emphasizing the principles of <em>tazkiyatun nafs</em> (purification of the soul), <em>ihsan</em> (spiritual excellence), and <em>tawhid</em> (oneness of God). Three main themes emerge: (1) the epistemological distortion by Orientalists regarding the sources of Sufi teachings, (2) the reconstructive responses of Muslim scholars through the Islamization of knowledge, and (3) the de-Orientalization of Islamic studies as a form of epistemic justice. Theoretically, this research enriches the discourse on Islamic epistemology and postcolonial studies, while practically it offers new directions for developing Islamic curricula that integrate rationality and spirituality. Future studies are suggested to use a phenomenological field approach to examine the empirical experiences of Sufi communities in confronting Western knowledge hegemony.</p> Shoopa Alifiah Salsabil Suadi Sa'ad Copyright (c) 2026 Shoopa Alifiah Salsabil, Suadi Sa'ad https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 70 83 10.58572/hkm.v6i1.230 Perang salib dan serangan tentara mongol serta dampaknya terhadap tatanan kehidupan global https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/256 <p>Artikel ini mengkaji dua peristiwa besar dalam sejarah peradaban global, yaitu Perang Salib dan serangan bangsa Mongol, serta dampaknya terhadap tatanan kehidupan dunia dari masa lalu hingga masa kini. Keduanya tidak hanya mencerminkan konflik militer, tetapi juga benturan ideologi, politik, dan kebudayaan antara dunia Islam dan Barat. Melalui pendekatan historis-analitis, penelitian ini menelusuri bagaimana kedua peristiwa tersebut membentuk dinamika geopolitik dan peradaban manusia secara global. Perang Salib yang dimulai pada akhir abad ke-11 M menjadi momentum interaksi intensif antara Islam dan Kristen Barat yang melahirkan baik konfrontasi maupun pertukaran budaya. Sementara itu, serangan bangsa Mongol pada abad ke-13 M membawa kehancuran besar, terutama dengan runtuhnya Baghdad pada tahun 1258 M, namun juga membuka jalur perdagangan dan pertukaran ilmu pengetahuan di wilayah Eurasia. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki pengaruh jangka panjang terhadap struktur sosial, ekonomi, dan politik dunia. Warisan sejarahnya masih terasa dalam hubungan antarperadaban masa kini yang sering diwarnai oleh rivalitas, tetapi juga mengandung peluang bagi dialog dan kerja sama global. Dengan memahami dinamika sejarah tersebut, umat manusia dapat membangun kesadaran reflektif menuju tatanan dunia yang damai dan berkeadaban.</p> Mochammad An'im Copyright (c) 2026 Mochammad An'im https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 84 103 10.58572/hkm.v6i1.256 Ontologi cahaya dalam teosofi iluminasi suhrawardi : studi kritis terhadap teori emanasi paripatetik https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/259 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ontologi dalam teosofi iluminasi menurut Syihab al-Din al-Suhrawardi sebagai upaya memahami kembali struktur realitas dalam filsafat Islam. Kajian ini menyoroti bagaimana sistem filsafat Isyraqiyyah menggabungkan rasionalitas dan intuisi melalui prinsip nur (cahaya) sebagai dasar metafisika universal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, dengan sumber primer berupa buku karya Syihab Ad-Din Yahya As-Suhrawardi yaitu Hikmah Al-Isyraq: teosofi cahaya dan metafisika huduri, serta sumber sekunder berasal dari jurnal, buku, dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan judul. Data dianalisis melalui metode analisis kritis dan hermeneutik, untuk menyingkap struktur ontologis dan dimensi teosofis pemikiran Suhrawardi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realitas dalam filsafat Isyraqiyyah dipahami sebagai gradasi cahaya yang berpuncak pada Nur al-Anwar, di mana eksistensi dan pengetahuan menjadi satu kesatuan iluminatif. Temuan ini menegaskan bahwa filsafat Isyraqiyyah bukan hanya sistem metafisika, tetapi juga jalan spiritual yang menuntun manusia menuju pencerahan batin dan kesadaran Ilahi, sekaligus menawarkan kritik terhadap rasionalisme modern yang terlepas dari nilai-nilai spiritual<strong>.</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> Anisa Saepul Muhamad Falqih Akbar Agus Ali Dzawafi Copyright (c) 2026 Anisa, Saepul, Muhamad Falqih Akbar, Agus Ali Dzawafi https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 104 116 10.58572/hkm.v6i1.259 Studi Kritis terhadap Konsep Mahabbah dan Ma’rifah dalam Mengisi Spiritualisasi Ilmu Pengetahuan https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/280 <p>Mahabbah dan ma‘rifah merupakan dua konsep fundamental dalam tradisi tasawuf yang merepresentasikan dimensi cinta spiritual dan pengetahuan ilahiah dalam hubungan manusia dengan Allah Swt. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengertian, landasan konseptual, serta keterkaitan antara mahabbah dan ma‘rifah dalam kerangka spiritualitas Islam, sekaligus menelaah relevansinya bagi kehidupan manusia modern yang kerap mengalami krisis makna dan kekosongan batin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang bersumber pada Al-Qur’an, hadis Nabi, serta literatur tasawuf klasik dan kontemporer. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui proses pengumpulan, reduksi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahabbah merupakan kecintaan ruhiah yang tulus dan total kepada Allah tanpa pamrih duniawi, sedangkan ma‘rifah adalah pengenalan batiniah terhadap Allah yang diperoleh melalui penyucian hati dan anugerah Ilahi. Kedua konsep ini bersifat saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan spiritual seorang sufi, sebagaimana tercermin dalam pemikiran tokoh-tokoh tasawuf seperti Rabi‘ah al-‘Adawiyah, Dhu’n-Nun al-Mishri, dan al- Ghazali. Mahabbah melahirkan kedekatan eksistensial dengan Tuhan, sementara ma‘rifah memperdalam kesadaran spiritual dan transformasi akhlak. Dengan demikian, mahabbah dan ma‘rifah dapat dipandang sebagai fondasi utama tasawuf yang tetap relevan dalam membangun spiritualitas Islam yang bermakna di tengah tantangan kehidupan kontemporer.</p> Suni Subagja Serly Amalia Copyright (c) 2026 Suni Subagja, M Syukron Jazilah, Gina Husniati, Ayatullah https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 117 124 10.58572/hkm.v6i1.280 Babisme dan bahaisme dalam kontestasi otoritas keagamaan pada masa dinasti qajar abad ke-19 https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/285 <p>Penelitian ini mengkaji munculnya gerakan Babisme dan Bahaisme sebagai fenomena sosial-keagamaan yang signifikan dalam transformasi identitas Persia pada abad ke-19. Kedua gerakan ini muncul di tengah konteks historis Dinasti Qajar yang mengalami krisis legitimasi politik, tekanan imperialisme Barat dan Rusia, serta ketegangan sosial akibat modernisasi. Penelitian bertujuan untuk menganalisis akar ideologis kedua gerakan, menjelaskan konteks sosio-politik kemunculannya, mengidentifikasi dampak terhadap masyarakat Persia, dan mengevaluasi persekusi yang dialami pengikutnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-historis dengan analisis sumber primer dan sekunder, termasuk teks-teks keagamaan, dokumen sejarah Qajar, dan literatur akademis kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Babisme, yang dimulai oleh Sayyid Ali Muhammad al-Bab pada 1844, merupakan gerakan reformasi radikal yang menantang ortodoksi Syiah Itsna Asyariyah. Gerakan ini kemudian berkembang menjadi Bahaisme di bawah kepemimpinan Mirza Husayn Ali Nuri (Baha'ullah), yang menekankan universalisme agama dan kesetaraan umat manusia. Kedua gerakan menghadapi persekusi brutal dari pemerintah Qajar dan ulama Syiah, mengakibatkan ribuan korban jiwa, termasuk eksekusi publik sang Bab pada 1850. Meskipun mengalami penindasan, warisan ideologis kedua gerakan tetap berpengaruh dalam membentuk wacana modernitas, reformasi sosial, dan pluralisme keagamaan di Iran modern. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman kompleksitas dinamika agama-politik dalam sejarah Timur Tengah modern.</p> Aas Safinatun Najah Shelsie Amalia Putri Salman Nur Fahmi Copyright (c) 2026 Aas Safinatun Najah, Shelsie Amalia Putri, Salman Nur Fahmi https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 125 141 10.58572/hkm.v6i1.285 Konsep Tawakal dalam Kitab Tanwirul Qulub: Analisis Isi dan Relevasinya bagi Kehidupan Modern https://journal.idrisiyyah.ac.id/index.php/hikamia/article/view/292 <p>The concept of tawakal is one of the main teachings in Islamic spirituality that plays an important role in shaping inner peace and emotional balance. In modern life, which is characterized by psychological pressure, materialistic orientation, and spiritual crisis, tawakal has become a relevant religious value to be reexamined. This study aims to analyze the concept of <em>tawakkul</em> in the book <em>Tanwirul Qulub</em> by Shaykh Muhammad Amin Al-Kurdi and to explain its relevance to contemporary life. This research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were collected through library research, using <em>Tanwirul Qulub</em> as the primary source and various scholarly books and journals as secondary sources. Data analysis was conducted using content analysis to reveal the conceptual and practical meanings of tawakal. The results indicate that the value of tawakal helps individuals avoid materialistic lifestyles, reduce envy toward others, and better manage emotions such as disappointment, anxiety, and anger. The concept of tawakal in <em>Tanwirul Qulub</em> is not only relevant as a classical Sufi teaching but also serves as a practical guide for addressing psychological and spiritual problems in modern society.</p> Muhamad Zidan Alida Putera Anisa Rihadatul A’isy Iffan Ahmad Gufron Ade Fakih Kurniawan Copyright (c) 2026 Muhamad Muhamad Zidan Alida Putera, Anisa Rihadatul A’isy, Iffan Ahmad Gufron, Ade Fakih Kurniawan https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 2026-03-24 2026-03-24 6 1 142 155 10.58572/hkm.v6i1.292